Jumat, 30 September 2016

ETIKA PROFESI



ETIKA PROFESI

 

Etika menjadi tolok ukur dalam mengatur perilaku hidup masyarakat. Salah satunya etika dalam profesi. Sebelum membahas lebih jauh tentang etika profesi ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu etika profesi. 

  • Pengertian Etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika berkaitan erat dengan perkataan moral yang berarti juga dengan adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral memiliki pengertianyang hampir sama, namun dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

  • Pengertian Profesi
Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetapi memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk profesi itu.
Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi.Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.
Pengertian etika profesi menurut para ahli yaitu :

  • Menurut Kaiser dalam  ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 )   
Etika profesi merupakan sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.


  • Menurut (Anang Usman, SH., MSi.)
Etika profesi adalah sebagai sikap hidup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama,

Adapun beberapa fungsi etika, yaitu :
  • Tempat untuk mendapatkan orientasi kritis yang berhadapan dengan berbagai suatu moralitas yang membingungkan.
  • Untuk menunjukan suatu keterampilan intelektual yakni suatu keterampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
  • Untuk Orientasi etis ini diperlukan dalam mengambil suatu sikap yang wajar dalam suasana pluralisme.

Banyak istilah dalam etika, salah satunya etiket namun etika dan etiket itu sendiri berbeda.
Perbedaan antara etika dengan etiket yaitu :
  • Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia, artinya cara yangditentukan dan diharapkan dalam sebuah kalangan tertentu. Sedangkan etika tidakterbatas pada cara melakukan suatu perbuatan, melainkan etika memberi normatentang perbuatan itu sendiri, serta membahas tentang masalah apakah perbuatantersebut boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
  • Etiket hanya berlaku untuk pergaulan, maksudnya adalah etiket hanya berlakuapabila ada orang lain atau saksi mata. Sedangkan Etika selalu berlaku walaupuntidak ada orang lain.
  • Etiket bersifat relatif, artinya adalah seseorang yang dianggap melanggar etiketpada salah satu kebudayaan belum tentu dianggap melanggar etika padakebudayaan yang lain. Sedangkan Etika bersifat tetap dan tidak dapat ditawar.
  • Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja atau dari segi luar saja.Sedangkan Etika memandang manusia dari segi dalam. maksudnya adalah, orang yang memegang teguh etiket masih bisa bersikap munafik, sebaliknya orang yang berpegang teguh pada etika tidak akan bersikap munafik, karna apabila orang tersebut munafik, maka orang tersebut tidak bersikap etis (orang yang benar-benar baik).
Saat ini banyak masyarakat yang melanggar etika, pelanggaran tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1)   Kebutuhan individu, misal korupsi dengan alasan ekonomi.

2)   Tidak ada pedoman/area abu-abu, sehingga tidak ada/tidak jelas panduan.

3)   Perilaku dan kebiasaan individu yang terakumulasi dan tak dikoreksi.

4)   Lingkungan yang tidak etis, pengaruh dari komunitas.

5)   Perilaku orang yang ditiru, efek primodialisme yang kebablasan.

Pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat tentunya harus mendapat sanksi tegas agar masyarakat tidak mengulanginya lagi. Sanksi pelanggaran etika tersebut antara lain:

1) Sanksi Sosial : Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat ‘dimaafkan’

2) Sanksi Hukum : Skala besar, merugikan hak pihak lain

Adapun jenis-jenis Etika, sebagai berikut:

1) Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar

2) Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus.

·      Etika khusus ini masih dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial.

·      Etika sosial dibagi menjadi:
  • Sikap terhadap sesama;
  • Etika keluarga
  • Etika profesi misalnya etika untuk pustakawan, arsiparis, dokumentalis, pialang informasi
  • Etika politik
  • Etika lingkungan hidup

Contoh kasus etika profesi :

 

Kasus KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono yang diduga menyuap pajak.
September tahun 2001, KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono harus
menanggung malu. Kantor akuntan publik ternama ini terbukti menyogok aparat
pajak di Indonesia sebesar US$ 75 ribu. Sebagai siasat, diterbitkan faktur palsu
untuk biaya jasa profesional KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman
Christensen, anak perusahaan Baker Hughes Inc. yang tercatat di bursa New
York.


Berkat aksi sogok ini, kewajiban pajak Easman memang susut drastis. Dari
semula US$ 3,2 juta menjadi hanya US$ 270 ribu. Namun, Penasihat Anti Suap
Baker rupanya was-was dengan polah anak perusahaannya. Maka, ketimbang
menanggung risiko lebih besar, Baker melaporkan secara suka rela kasus ini dan
memecat eksekutifnya.

Badan pengawas pasar modal AS, Securities & Exchange Commission,
menjeratnya dengan Foreign Corrupt Practices Act, undang-undang anti korupsi
buat perusahaan Amerika di luar negeri. Akibatnya, hampir saja Baker dan
KPMG terseret ke pengadilan distrik Texas. Namun, karena Baker mohon ampun,
kasus ini akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. KPMG pun terselamatan.

Komentar : Pada kasus ini KPMG telah melanggar prinsip integritas karena tidak
memenuhi tanggungjawab profesionalnya sebagai Kantor Akuntan Publik
sehingga memungkinkan KPMGkehilangan kepercayaan publik. KPMG juga
telah melanggar prinsip objektivitas karena telah memihak kepada kliennya dan
melakukan kecurangan dengan menyogok aparat pajak di Indonesia.


SUMBER :
http://dokumen.tips/documents/contoh-kasus-pelanggaran-etika-profesi-akuntansi.html

Kamis, 19 Mei 2016

KLAUSA ADVERBIA dan SUBJUNCTIVE

KLAUSA ADVERBIA

Klausa adverbia menunjukkan beberapa hubungan seperti waktu, sebab-akibat, perlawanan dan kondisional.
Klausa adverbial dapat berfungsi sebagai subjek.

Dua klausa independen salah satunya dapat dibuat klausa adverbia dengan langkah sebagai berikut :
  1. Anda harus memiliki dua klausa yang memiliki hubungan waktu, sebab akibat perlawanan, atau kondisi.
    Contoh :
                Jimmy couldn't swim.
                He jumped off the pier.
              kedua kalimat ini memiliki hubungan perlawanan (contrast)
  2. Tambahkan subordinate conjunction di awal klausa yang ingin Anda ubah menjadi dependent clause.
    Contoh :
                Although Jimmy couldn't swim,
                He jumped off the pier.
  3. Letakkan kedua klausa berdampingan. Pada umumnya, urutan penempatan klausa tidak begitu dipermasalahkan. Jika independent clause diletakkan di awal maka setelah independent clause harus diberi tanda koma kemudian diikuti oleh dependent clause.
    Contoh :
                Although Jimmy couldn't swim, he jumped off the pier.
Ketika independent clause muncul di bagian awal klausa, maka tidak perlu diberi tanda koma.
Contoh :
                        Jimmy jumped off the pier although he couldn't swim
Klausa adverbia menggunakan beberapa subordinate conjunction untuk menghubungkan antara independent dan dependent clause, yaitu :
  • Time: after before, when, while, as, by the time, whenever, since, until, as soon, once, as long as
  • Cause and effect: because, since, now that, as, as long as, in as much as, so (that) in case, in order that

  • Contrast: although, even though, though, whereas, while
  • Condition: if, unless, only if, whether or not, even providing (that), provided (that) in case, in the event (that).
Contoh :
  • After he took lessons, George could swim well.
    George could swim well after he took lessons.
  • Because he couldn't swim, Billy drowned.
    Billy drowned because he couldn't swim.

INGAT! Subordinate conjunctions dalam klausa adverbia ini tidak dapat dihilangkan.

Contoh Soal dan Pembahasan
SOAL
  1. ………. you want to write well, you must practice.
    (A) Although
    (B) If
    (C) Until
    (D) Before
PEMBAHASAN
Kalimat ini mengindikasikan sebuah kondisi atau situasi dimana seseorang jika ingin mampu menulis dengan baik maka harus berlatih. Subordinate conjunction yang mengindikasikan condition adalah (B)
SOAL
  1. Fred works as a cook……….he isn't interested in food.
    (A) although
    (B) if
    (C) until
    (D) before
PEMBAHASAN
Kedua klausa memiliki dua kata keria yang saling berlawanan (contrast) maka dapat diketahui bahwa klausa memiliki hubungan perlawanan. Jadi, subordinate conjunction yang tepat adalah although (A),

SOAL
  1. Since the end of the last century………technology started to make a full impact, debates have sprung up among people worldwide.
    (A) although
    (B) if
    (C) until
    (D) when
PEMBAHASAN
Keterangan since the end of the last century menunjukkan bahwa kedua klausa memiliki hubungan waktu. Jadi, subordinate conjunction yang menunjukkan hubungan waktu adalah when (D)
SOAL
  1. We can travel from one place to another by plane only in few tours……..it would take our ancestors several months or even years in the ancient time.
    (A) if
    (B) until
    (C) while
    (D) because

PEMBAHASAN
Dari dua klausa ini terdapat informasi yang saling berlawanan yaitu only in few dan several months or years. Jadi, subordinate conjunction untuk klausa adverbial yang tepat adalah while (sedangkan) (C).
SOAL
  1. ……….I could pick up examples here and there around us and I would here explore a few of the most important ones.
    (A) Though
    (B) Because
    (C) When
    (D) Until

PEMBAHASAN
Explore merupakan tindak lanjut karena adanya pick up dan ones mengacu pada examples. Sehingga, kedua klausa memiliki hubungan sebab-akibat dan subordinate conjunction yang sesuai adalah Because (B)
SOAL
  1. ……….we see a Toyota or Sony advertisement on TV,we realize that Japanese people see quality as a vital aspect of their products.
    (A) Though
    (B) Because
    (C) When
    (D) Until

PEMBAHASAN
Klausa ini memiliki memiliki kata kerja yang menginformasikan hal dan tense sama sehingga kedua klausa tersebut menginformasikan dua hal yang terjadi bersamaan. Jadi, subordinate conjuction yang tepat untuk menghubungkan keduanya adalah keterangan waktu-When (C).

SOAL
  1. We can also gain a deeper understanding country and people……… we have gained s deeper understanding of product.
    (A) Though
    (B) Because
    (C) When
    (D) Until

PEMBAHASAN
Kedua klausa ini memiliki kegiatan yang sama. Hal tersebut ditunjukkan oleh kata kerja yang sama, yaitu gain. Sehingga, diketahui bahwa kedua kalusa tersebut menginformasikan suatu keadaan yang terjadi dalam waktu beriringan/ bersamaan. Maka, subordinate conjuction untuk klausa adverbia-nya adalah when (C).
SOAL
  1. Some may choose to live in big may choose to live in big cities,……… other like the natural and quiet surroundings in the countryside.
    (A) while
    (B) when
    (C) eventhough
    (D) because
PEMBAHASAN
Kedua klausa ini mengandung informasi yang berlawanan yaitu live in big cities dan in the countryside. Jadi, klausa adverbial yang ada harus menggunakan subordinate conjuction yang mengindikasikan perlawanan-yaitu while (sedangkan) (A).

SOAL
  1. I would to live in a big city………living in a big city has more advantages than living in the countryside.
    (A) while
    (B) when
    (C) eventhough
    (D) because
PEMBAHASAN
Informasi live in a big city dan living in a big city has more advantages mengindikasikan hubungan sebab-akibat. Sehingga, klausa adverbia yang tepat harus menggunakan subordinate conjunction ‘because’ (D).
SOAL
  1. It is understandable………..some people suggest it should be better to give up sometimes.
    (A) even if
    (B) although
    (C) because
    (D) since

PEMBAHASAN
Understandable merupakan situasi kondisi yang akan terjadi bila some people suggest it should be better to give up sometimes.Subordinate conjunction yang menghubungkan klausa adverbia hubungan kondisi adalah even if (A).


 SUBJUNCTIVE


Subjunctive dapat disebut pula sebagai pengandalan. Jenis kalimat ini sangat khusus dan
umumnya jarang digunakan dalam Bahasa Inggris.

Struktur Subjuctive
struktur ini sangat sederhana. Semua kata kerja kecuali bentuk past tense (lampau) diikuti oleh be. Kata kerja subjunctive sama dengan kata kerja dasar (infinitive) tanpa ‘to’.
be (past)
be (present)
all other verbs (past & present)
I were
I be
I work
you were
you be
you work
he, she, it were
he, she, it be
he, she, it work
we were
we be
we work
you were
you be
you work
they were
they be
they work

Kata kerja subjunctive tidak berubah meski menggunakan berbagai subjek. I, you, he, we, she,
they dsb. tetap menggunakan kata keria yang berjenis sama (kata kerja dasar).
Penggunaan Subjuctive
Subjunctive digunakan ketika berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadinya tidak tentu atau belum jelas. Peristiwa yang belum tentu antara ketika seseorang menginginkan/ berharap peristiwa tersebut terjadi antara lain:
  • ketika seseorang menginginkan/berharap peristiwa tersebut terjadi
  • ketika seseorang mengira/menyangka peristiwa tersebut akan terjadi
  • ketika seseorang membayangkan peristiwa tersebut sedang terjadi

Contoh:
  • The President requests that you be present at the meeting
  • It is you be present at the meeting.
  • If you were at the meeting, the would be happy
Subjunctive digunakan setelah kata-kata berikut ini:
l -kata kerja: ask, command, demand, insist, propose, recommend, request, suggest + that
II -ekspresi: it is desirable/ essential importan/ necessary/ vital + that

Contoh:
  • The manager insists that the car park belocked at night.
  • The board of directors recommended that he join the company.
  • It is essential that we vote as soon as possible.
Pada kalimat subjunctive strukturnya selalu sama dan tidak terpengaruh akan tense (past atau present).
Contoh:
a) Present : The President requests that they stop the occupation.
    Past       : The President requested that they stop the occupation.
b) Present : It is essential that she be present.
    Past       : It was essential that she be present.
Subjunctive seperti yang dijelaskan di atas lebih sering digunakan dalam Inggris Amerika dari
pada di Inggris. Di Inggris lebih sering menggunakan bentuk berikut: should + infinitive
Contoh:
  • The manager insists that the car park should be locked at night.
  • It was essential that we should vote as soon as possible.
Sutjunctive ‘were’ digunakan untuk menggantikan ‘was’ setelah ‘if’ yang tentu saja tidak
merubah arti kalimat.
Contoh:
  • If l were you, would ask her.
  • Suppose she were here. What would you say?

Mengapa subjunctive ‘were' lebih sering digunakan?
Karena, ‘were’ mengacu pada kata kerja past subiunctive yaitu ‘to be’ bukan merupakan bentuk
lampau (past simple tense) dari am atau is. Subjunctive ‘were’ digunakan setelah:
Contoh:
  • If                     : If were younger, would be stronger.
  • as if                 : She acts as if she were Queen.

  • Wish                : I wish weren't so weak.

  • Suppose           : I suppose you were sick.

Sutjunctive dapat digunakan dalam bentuk negative, continuous dan passive.
Negative
Contoh:
  • The boss insisted that Sam not be at the meeting.
  • The company asked that employees not accept personal phone calls during business hours.
  • I suggest that you not take the job without renegotiating the salary.
Passive
Contoh:
  • Jake recommended that Susan be hired immediately.
  • Christine demanded that I be allowed to take part in the negotiations.
  • We suggested that you be admitted to the organization.

Continous
Contoh:
  • It is important that you be standing there when the gets off the plane.
  • It is crucial that a car be waiting for the boss when the meeting is over.
  • I propose that we all be waiting in Tim’s apartement when he gets home.


Beberapa ekspresi tertentu juga menggunakan subjunctive.
Contoh:

  • Long live the King!
  • God bless America!
  • Heaven forbid!
Contoh Soal dan Pembahasan
SOAL
  1. If the……… so mean, he would buy one for me.
    (A) wasn’t
    (B) weren’t
    (C) Isn’t
    (D) aren’t
PEMBAHASAN
Seperti yang telah dibahas, setelah if  dalam kalimat subjunctive wajib menggunakan were atau weren’t dengan apapun subjeknya. Jadi, kata yang tepat untuk melengkapi kalimat ini adalah weren’t (B).
SOAL
  1. It’s not as if I………ugly.
    (A) am
    (B) was
    (C) were
    (D) be
PEMBAHASAN
Seperti ketika menggunakan if, setelah as if juga diikuti oleh were untuk kalimat positif dan weren’t untuk kalimat negative. Jadi, jawaban yang tepat untuk kalimat ini adalah were ©.

 SOAL
  1. I wish it………longer.
    (A) be
    (B) is
    (C) was
    (D) were

PEMBAHASAN
Setelah wish dalam kalimat subjunctive, subjek apapun wajib diikuti oleh were atau weren’t. Maka, jawaban yang sesuai untuk kalimat ini adalah were (D).

SOAL
  1. Far ……..it from me.
    (A) be
    (B) is
    (C) was
    (D) are
PEMBAHASAN
Kalimat subjunctive dalam bentuk present-apapun subjeknya-kata kerja yang digunakan selalu infinitif-yaitu be (A).

SOAL
  1. ……… it to say
    (A) suffice
    (B) suffices
    (C) sufficing
    (D) sufficed
PEMBAHASAN
Bila subjunctive digunakan dalam suatu ekspresi maka kata yang dimaksud harus dalam bentuk infinitif. Jadi, jawaban yang tepat adalah Suffice (A).

SOAL
  1. The doctor recommended that she……… a specialist about the problem.
PEMBAHASAN
Kalimat yang menggunakan kata recommended termasuk subjunctive. Kalimat subjunctive pada umumnya dikuti oleh kata kerja dasar. Namun, kalimat subjunctive juga dapat menggunakan modal -yaitu should. Jadi, jawaban yang tepat adalah should see (B).


SOAL
  1. It’s important that our Judicialry…….full.
    (A) is
    (B) was
    (C) were
    (D) be

PEMBAHASAN
Seperti yang dijelaskan materi pembahasan bahwa kalimat subjunctive - present, kata kerjanya harus dalam bentuk infinitif (dasar/tanpa tambahan apapun). Jadi, jawaban yang tepat untuk kalimat ini adalah be (D).
SOAL
  1.  It's not really vital he……… in this call.
    (A) was invoicing
    (B) be involved
    (C) is
    (D) is involved

PEMBAHASAN
Vital merupakan subjunctive.  Jadi, kata kerja yang digunakan harus dalam bentuk infinitif, Jika, dalam bentuk pasif, maka susunannya menjadi infinitive + past participle
(V3)- be invoived (B).
SOAL
  1. seemed fated that the project…….. its name from the Scripture celebrating renewal.
    (A) take
    (B) takes
    (C) took
    (D) taken
PEMBAHASAN
Seemed merupakan subjunctive lampau sehingga kata kerja yang mengikutinya harus berupa infinitif, yaitu take (A).
SOAL
  1. If it were not for the pleadings of my granddaughter, you dead already.
    (A) be
    (B) are
    (C) will be
    (D) would be

PEMBAHASAN
Subjunctive ‘were’ digunakan setelah if ini harus diikuti oleh kata kerja would be (D).



REFERENSI
Forum Tentor Indonesia. 2015. TOP NO.1 TOEFL. Yogyakarta: Forum Edukasi

Kamis, 07 Januari 2016

BIBLIOGRAFI

BIBLIOGRAFI

I.       Pengertian Bibliografi

Bibliografi adalah sebuah daftar pustaka yang mencangkup isi dan deskripsi sebuah buku, hal tersebut meliputi, judul, pengarang, edisi, cetakan, kota penerbit, nama penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, ukuran tinggi buku dan ISBN.
Kata bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion: yang berarti buku dan Graphein: yang berarti menulis, maka kata Bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku. Dalam hal ini maka bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliofrafi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

 

II.      Fungsi Bibliografi

Fungsi sebuah bibliografi hendaknya secara tegas dibedakan dari fungsi sebuah catatan kaki. Referensi pada catatan kaki dipergunakan untuk menunjuk kepada sumber dan pernyataan atau ucapan yang dipergunakan dalam teks. Sebab itu referensi itu harus menunjuk dengan tepat tempat. dimana pembaca dapat menemukan pernyataan atau ucapan itu.
Dalam hal ini selain pengarang, judul buku dan sebagainya. harus dicantumkan pula nomor halaman di mana pernyataan atau ucapan itu bisa dibaca. Sebaliknya sebuah bibliografi memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah, harian itu secara keseluruhan. Karena itu fungsi catatan kaki dan bibliografi seluruhnya tumpang-tindih satu sama lain.
Di pihak lain bibliografi dapat pula dilihat dan segi lain. yaitu ía berfungsi sebagai pelengkap dan sebuah catatan kaki. Mengapa bibliografi itu dapat pula dilihat sebagai pelcngkap? Karena bila seorang pembaca iugin mengetahui lebih lanjut tentang referensi yang terdapat pada catatan kaki. maka ia dapat mencarinya dalam bibliografi. Dalam bibliografi dapat mengetahui keterangan-keterangan yang lengkap mengenai buku atau majalah itu.

III.    Unsur-Unsur Bibliografi

Untuk persiapan yang baik agar tidak ada kesulitan dalam penyusunan bibiografi itu, tiap penulis harus tahui pokok-pokok mana yang harus dicatat. Pokok yang paling penting yang harus dimasukkan dalam sebuah bibliografi adalah:
1)  Nama penulis, yang dikutip secara lengkap.
   Untuk penulis-penulis asing nama keluarga diletakan paling depan. Hal ini menentukan urutan huruf dalam daftar pustaka. Untuk penulis Indonesia yang menentukan urutan alfabetisnya ialah huruf pertama. Nama sendiri
   Jika penulis terdiri dari dua atau tiga orang, semua nama dicantumkan. Jika penulis lebih dari tiga orang ditulis singkatan et. al. (dan kawan-kawan/dkk).
   Jika dalam sumber bacaan terdapat beberapa tulisan yang di tulis oleh penulis yang sama maka sumber bacaaan itu disusun berurutan. Nama penulis hanya ditulis  urutan pertama, karya urutan kedua dan sterusnya tidak ditliskan tetapi diganti dengan garis sepanjang tujuh ketkan. Nama penulis meupun garis, diakhiri dengan titik.
2)  Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
  Cara menuliskan judul buku pada catatan kaki sama dengan cara menuliskan di daftar pustaka. Judul tulisan ketik dengan huruf kapital untuk setiap awal kata kecali kata tugas. Judul buku diletakan diantara tanda kutip dan diakhiri dengan tanda koma. Judul buku diketik dengan dengan jarak dua ketukan dari tanda titik di belakang nama penulis.
3)  Data publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke-berapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
  Data publikasi dimulai dengan tempat penerbitan dan akhiri dengan titik dua, kemudian dengan jarak satu sela ketukan dilanjutkan dengan nama badan penerbit, ditutup dengan koma, sela satu ketukan kemdian diikuti tahun penerbitan yang ditulis dengan angka arab dan diakhiri dengan titik. Jarak data publikasi dengan judul dua sela ketukan.
4)  Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid. nomor dan tahun.
     Dalam daftar pustaka nama buku atau nama majalah dengan cara yang sama dengan judul tulisan yaitu dengan huruf kapital untuk setiap awal kata dan diberi garis bawah. Nama buku diakhiri dengan tanda titik, tetapi untuk nama majalah diakhiri dengan tanda koma.

IV.   Macam-Macam Bibliografi

Dari segi cara penyajian dan uraian deskripsinya, bibliografi dibagi menjadi:
a)  Bibliografi deskriptif, yaitu bibliografi yang dilengakapi deskripsi singkat yang didapat dari gambaran fisik yang tertera atau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresium), kolasi serta kata kunci dan abstrak yang tertulis.
b)  Bibliografi evaluatif, yaitu bibliografi yang dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan pustaka. Evaluasi ini mencakup penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel.
Dari segi cakupanya, bibliografi dapat dibagi menjadi:
a)  Bibliografi retrospektif, yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka yang telah diterbitkan pada jaman yang lampau. Contoh : “Bibliografi sejarah perang Diponegoro”.
b)  Bibliografi terkini/current, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan yang sedang atau masih terbit saat ini. Contoh : “Ulrich’s International Periodicals Directory”.
c)   Bibliografi selektif, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan tertentu dengan tujuan tertentu. Contoh : “Buku untuk anak usia pra sekolah”.
d)  Bibliografi subjek, yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka atau artikel pada bidang ilmu dan subjek tertentu. Contoh : “Bibliografi khusus ternak ayam”.
e)  Biliografi nasional, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan suatu negara atau daerah regional tertentu. Contoh : “Bibliografi Nasional Indonesia”.

V.     Penyusunan Bibliografi

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka.
1.   Daftar pustaka  tidak diberi nomor urut
2.   Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad.
3.   Gelar penulisan tidak dicantumkan walaupun dalam buku yang dikutip penulis gelar
4. Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan referensi, untuk referensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan.
5.   Daftar pustaka deletakan pada bagian terakhir dari tulisan
6.   Jarak antara baris dengan baris untuk satu referensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
7.   Baris pertama dimulai dari garis tepi margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak empat/tujuh ketukan.

VI.   Contoh Bibliografi

1.   Buku sebagai sumber acuan

Urutan penyebutannya adalah
-Nama Pengarang
-Tahun terbit
-Judul buku
-Tempat terbit
-Nama penerbit
Contoh :
·         Penulisan daftar pustaka terdiri atas 1 (satu) orang penulis
Contoh :
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Ende : Nusa Indah
Ibrahim, nini. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: UHAMKA PRESS
·         Penulisan daftar pustaka terdiri atas 2 (dua) orang penulis buku
Contoh :
Arifin, E. Zaenal dan s. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademia
·         Penulisan daftar pustaka dengan penulis buku terdiri dari 3 (tiga) orang
Contoh :
Akhadiah, Sabarti, maidar G. Arsjad, dan Sakurta H. Ridwan. 2003. Pembinaan Kemampuan Manulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
·         Penulisan daftar pustaka denga penulis buku lebih dari 3 orang
Rani, Abdul dkk.2000. Analisis Wacana. Malang: Bayamedia


2.   Majalah sebagai sumber acuan

-Nama Pengarang
-Tahun terbit
-Judul artikel
-Nama majalah
-No majalah
-Bulan terbit
-Tahun terbit
Contoh :
Setiabudi, A.N. 1985. “Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan” Insert Media, 12 (Desember IV). Jakarta


3.   Surat Kabar sebagai acuan

-Nama Pengarang
-Tahun terbit
-Judul artikel
-Nama surat kabar
-Tanggal terbit
-Tempat terbit
Contoh :
Setiabudi, A.N. 1985. “Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan” Poskota, 2 November 1988 . Jakarta.

4.   Antologi sebagai acuan

-Nama Pengarang
-Tahun terbit karangan
-Judul karangan
-Nama Editor
-Judul antologi
-Tempat terbit
-Nama penerbit
Contoh :
Setiabudi, A.N. 1985. “Kisah Penulisa Sebagai Pahlawan” Kasus Retorika Indonesia. dalam Kaswati Purwo (ed), perjuangan pejuang. Jakarta : Univ Gunadarma.

5.   Internet sebagai sumber

Setiabudi, A.N. 1985. “Kereta maglev masa depan” Wikipedia (online), jilid 5,  No.4, (http://www.atmasetya.com, di akses 15 November 2001)


REFERENSI
http://darkzone7.blogspot.co.id/2014/04/pengertian-jenis-fungsi-dan-contoh.html
http://gracemoondanz1509.blogspot.co.id/2014/04/pengertian-jenis-fungsi-dan-contoh.html
http://oetaribudhi.blogspot.co.id/2014/04/bahasa-indonesia-2-bibliografi.html
wikipedia